PATI — TransvaransiJateng.com. Krisis air mulai menghantui petani di Kabupaten Pati. Sungai Silugonggo, salah satu sumber pengairan lahan pertanian, dilaporkan mengalami penyusutan debit hingga mengering di sejumlah titik.
Kondisi ini menjadi ancaman serius bagi petani yang menggantungkan keberlangsungan tanaman pada pasokan air dari aliran sungai tersebut. Ketika kebutuhan air tanaman meningkat, justru pasokan mulai menipis.
Informasi yang beredar menyebut ribuan hektare lahan pertanian di sepanjang wilayah yang bergantung pada aliran Silugonggo berpotensi terdampak. Jika kekeringan berlangsung lebih lama, risiko kerusakan tanaman hingga gagal panen semakin terbuka.
Salah seorang petani menyebut sekitar 127 hektare sawah di wilayahnya kini membutuhkan pasokan air. Penyusutan debit Silugonggo membuat pengairan menjadi persoalan yang tidak bisa lagi ditunda.
“Air sangat dibutuhkan untuk mempertahankan tanaman. Kalau sungai terus menyusut, kami kesulitan mendapatkan pasokan untuk sawah,” keluh petani.
Petani Mulai Terjepit
Bagi petani, air bukan sekadar kebutuhan tambahan. Air menentukan apakah tanaman bisa bertahan hingga masa panen atau justru berhenti tumbuh di tengah jalan.
Ketika saluran irigasi kehilangan pasokan, petani terpaksa mencari sumber air alternatif. Namun, tidak semua wilayah memiliki akses terhadap sumur, pompa, atau sumber air lainnya.
Masalahnya kemudian berlapis. Petani bukan hanya menghadapi ancaman kehilangan hasil panen, tetapi juga potensi kenaikan biaya produksi akibat harus mengeluarkan biaya tambahan untuk mendapatkan air.
Modal untuk benih, pupuk, tenaga kerja, dan biaya perawatan sudah dikeluarkan. Jika tanaman gagal dipanen, seluruh biaya tersebut berisiko menjadi kerugian.
Kekhawatiran petani semakin besar jika kondisi Silugonggo tidak segera pulih.
Jangan Tunggu Sawah Puso
Kondisi Silugonggo seharusnya menjadi alarm bagi pemerintah daerah dan instansi yang menangani pengelolaan sumber daya air serta pertanian.
Langkah pertama yang mendesak adalah memastikan kondisi debit sungai melalui pemantauan langsung dan terbuka. Pemerintah juga perlu memetakan lahan pertanian yang telah terdampak maupun yang berpotensi mengalami kekurangan air.
Tidak kalah penting, solusi darurat harus segera disiapkan bagi petani yang tanamannya sudah terancam. Distribusi air, pemanfaatan sumber air alternatif, hingga dukungan sarana pompa perlu dipertimbangkan sesuai kondisi masing-masing wilayah.
Sebab, persoalannya bukan sekadar berapa hektare sawah yang kekurangan air hari ini.
Jika dibiarkan, kekeringan dapat merembet menjadi persoalan produksi pangan dan pendapatan rumah tangga petani.
Air Dibutuhkan Sekarang, Bukan Setelah Tanaman Mati
Kekeringan Silugonggo memperlihatkan betapa rentannya pertanian ketika sumber air utama mulai kehilangan debit.
Pemerintah tidak cukup hanya menunggu laporan sawah yang puso. Penanganan harus dilakukan ketika tanaman masih bisa diselamatkan.
Petani telah menanam, mengeluarkan modal, dan mempertaruhkan penghasilan mereka pada musim tanam. Yang mereka butuhkan sekarang bukan sekadar pernyataan bahwa kondisi sedang dipantau, melainkan langkah nyata memastikan air tetap mengalir ke lahan.
Sebab ketika sawah sudah puso, air yang datang terlambat tidak lagi menyelamatkan panen.
Silugonggo sedang mengering. Pemerintah tidak boleh ikut terlambat bergerak.
Red.












