Menteri Kebudayaan Ziarah Malam di Jejak Para Tokoh Besar Jawa: Doa di Makam Sunan Kalijaga hingga Arya Penangsang

KADILANGU —TransvaransiJateng.com. Dalam suasana malam yang hening dan penuh khidmat, Menteri Kebudayaan melakukan ziarah dan doa di kompleks makam sejumlah tokoh penting dalam perjalanan sejarah dan kebudayaan Jawa.

Kunjungan tersebut tidak sekadar menjadi perjalanan spiritual, tetapi juga menghadirkan pesan kuat tentang pentingnya menjaga ingatan sejarah, merawat warisan budaya, serta menghormati tokoh-tokoh yang memiliki jejak besar dalam pembentukan peradaban Nusantara.

Di tengah kompleks pemakaman, Menteri Kebudayaan bersama rombongan tampak duduk bersila dan mengikuti doa dengan khusyuk. Ziarah dilakukan di makam Eyang Sunan Kalijaga, salah satu tokoh Wali Songo yang dikenal memiliki peran besar dalam penyebaran Islam melalui pendekatan budaya dan kearifan lokal.

Perjalanan ziarah kemudian juga diarahkan pada makam Pangeran Arya Penangsang, tokoh penting dalam sejarah Kesultanan Demak yang dalam sejumlah penuturan sejarah lokal dikenal sebagai bagian dari pergulatan kekuasaan besar pada masa akhir Demak.

Tak hanya itu, rombongan juga mendoakan Ki Empu Supo, tokoh empu yang dikenal dalam tradisi sejarah Jawa dan memiliki keterkaitan erat dengan lingkungan tokoh-tokoh besar pada masanya.

Kunjungan malam tersebut menghadirkan suasana yang berbeda dari agenda seremonial pemerintahan pada umumnya. Tidak ada kemegahan berlebihan. Yang terlihat justru kesederhanaan, duduk bersama di atas sajadah, menundukkan kepala, dan memanjatkan doa di hadapan makam para leluhur.

Ziarah ini dapat dimaknai sebagai pengingat bahwa kebudayaan tidak hanya hidup di panggung pertunjukan, museum, atau dokumen sejarah. Kebudayaan juga hidup dalam ingatan masyarakat, situs-situs leluhur, tradisi ziarah, serta penghormatan terhadap tokoh yang pernah membentuk perjalanan sebuah bangsa.

Di tengah derasnya modernisasi, perhatian terhadap situs sejarah dan tokoh-tokoh masa lalu menjadi penting. Sebab, bangsa yang kehilangan ingatan terhadap sejarahnya akan lebih mudah kehilangan arah dalam menentukan masa depannya.

Ziarah malam Menteri Kebudayaan di makam Sunan Kalijaga, Pangeran Arya Penangsang, dan Ki Empu Supo pun menjadi simbol bahwa merawat kebudayaan harus dimulai dari kesediaan untuk kembali mengenali akar sejarah. Bukan sekadar mengenang nama-nama besar, tetapi memahami nilai, perjuangan, dan warisan yang mereka tinggalkan untuk generasi setelahnya.

Kebudayaan bukan hanya tentang masa lalu. Kebudayaan adalah akar yang menentukan seberapa kokoh sebuah bangsa berdiri menghadapi masa depan.

Red.