PERGURUAN TINGGI TIDAK BOLEH MENJADI PENONTON

SEMARANG. TransvaransiJateng.com. Birrul Walidain, Tanggung Jawab Akademik, dan Keberanian Mengabdi untuk Kemajuan Bangsa.

Pidato Rektor Universitas Islam Sultan Agung (UNISSULA)

Prof. Dr. H. Gunarto, S.E., S.H., M.H.

Bismillahirrahmanirrahim.

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Yang saya hormati para pimpinan, guru besar, dosen, tenaga kependidikan, mahasiswa, alumni, serta seluruh keluarga besar Universitas Islam Sultan Agung yang saya banggakan.

Hadirin yang saya muliakan,

Ada satu pertanyaan besar yang harus selalu kita ajukan kepada diri kita sebagai insan perguruan tinggi:

Untuk apa perguruan tinggi didirikan?

Apakah hanya untuk menyelenggarakan perkuliahan?

Apakah hanya untuk menghasilkan lulusan?

Apakah hanya untuk memberikan gelar akademik?

Ataukah perguruan tinggi mempunyai tanggung jawab yang jauh lebih besar: ikut menentukan arah perjalanan bangsa dan memberikan jawaban atas persoalan-persoalan nyata yang dihadapi masyarakat?

Saya berpandangan, perguruan tinggi tidak boleh hanya menjadi penonton.

Perguruan tinggi harus menjadi tulang punggung kemajuan bangsa.

Universitas tidak boleh berdiri di menara gading, melihat persoalan bangsa dari kejauhan, kemudian hanya menghasilkan berbagai kajian dan laporan penelitian tanpa keberanian untuk mengambil tanggung jawab.

Ilmu pengetahuan harus turun ke bumi.

Ilmu harus menjadi amal.

Riset harus menjadi kebijakan.

Kampus harus menjadi bagian dari solusi.

Dan para akademisi harus memiliki keberanian moral untuk mengatakan: inilah yang harus kita kerjakan untuk bangsa ini.

Hadirin yang saya hormati,

Dalam tradisi Islam terdapat konsep yang sangat luhur, yaitu birrul walidain.

Birrul walidain selama ini kita pahami sebagai kewajiban berbakti kepada kedua orang tua. Namun, secara lebih luas, nilai tersebut mengajarkan kepada kita tentang penghormatan, pengabdian, tanggung jawab, dan kesediaan untuk membalas jasa mereka yang telah memberikan kehidupan dan masa depan kepada kita.

Nilai inilah yang menurut saya harus kita bawa ke dalam kehidupan perguruan tinggi.

Bangsa Indonesia adalah bangsa yang dibangun oleh perjuangan generasi terdahulu.

Kita menikmati kemerdekaan karena jasa para pendahulu.

Kita menikmati pendidikan karena ada generasi yang memperjuangkannya.

Kita menikmati pembangunan karena ada orang-orang sebelum kita yang bekerja, berkorban, bahkan kehilangan nyawanya.

Maka, apa bentuk birrul walidain kita sebagai insan akademik terhadap bangsa dan negara?

Jawabannya adalah:

menggunakan ilmu untuk membalas jasa bangsa.

Dosen tidak cukup hanya mengajar.

Profesor tidak cukup hanya memiliki gelar.

Mahasiswa tidak cukup hanya mengejar indeks prestasi.

Universitas tidak cukup hanya mengejar peringkat.

Semua itu penting, tetapi bukan tujuan akhir.

Tujuan akhirnya adalah kemanfaatan ilmu bagi manusia, masyarakat, bangsa, dan peradaban.

Hadirin yang saya banggakan,

Karena itu, saya ingin menegaskan bahwa perguruan tinggi harus berani mengubah paradigma.

Kita harus bergerak dari teaching university menuju universitas yang menghasilkan pengetahuan, kemudian dari pengetahuan menuju kebijakan, dan dari kebijakan menuju tindakan nyata.

Kita tidak boleh berhenti pada:

research – publication – graduation.

Kita harus bergerak menuju:

research – policy – implementation – impact.

Penelitian harus menjawab kebutuhan masyarakat.

Hasil penelitian harus dapat dibaca oleh pemerintah.

Pemerintah harus dapat menggunakannya sebagai dasar kebijakan.

Dan perguruan tinggi harus ikut mengawal implementasinya.

Inilah yang saya maksud dengan tanggung jawab perguruan tinggi.

Universitas tidak boleh hanya berkata:

“Kami sudah melakukan penelitian.”

Tetapi harus berani berkata:

“Kami ikut bertanggung jawab agar pengetahuan itu benar-benar memberi perubahan.”

Hadirin yang saya muliakan,

Indonesia adalah negara besar.

Kita memiliki sumber daya alam yang luar biasa.

Kita memiliki jumlah penduduk yang besar.

Kita memiliki generasi muda yang sangat potensial.

Tetapi semua potensi tersebut tidak otomatis menjadi kekuatan apabila tidak dikelola dengan ilmu pengetahuan, integritas, teknologi, kebijakan yang tepat, dan keberanian untuk bertindak.

Di sinilah perguruan tinggi harus hadir.

Ketika bangsa menghadapi persoalan kemiskinan, perguruan tinggi harus hadir memberikan solusi.

Ketika kita menghadapi persoalan ketahanan pangan, perguruan tinggi harus hadir.

Ketika terjadi persoalan lingkungan, energi, kesehatan, pendidikan, pertanahan, tata ruang, hukum, ekonomi, teknologi, dan transformasi digital, perguruan tinggi tidak boleh hanya menjadi pengamat.

Kampus harus berada di tengah persoalan.

Kampus harus menjadi co-architect pembangunan bangsa.

Bukan hanya menjadi mitra pemerintah dalam penelitian, tetapi ikut merancang, mengawal, dan mengevaluasi pembangunan.

Bukan menjadi pelengkap kebijakan, tetapi menjadi salah satu kekuatan intelektual yang menentukan arah kebijakan.

Hadirin yang saya hormati,

UNISSULA harus mengambil bagian dalam tanggung jawab besar tersebut.

Kita mempunyai landasan yang kuat.

Kita mempunyai tradisi akademik.

Kita mempunyai sumber daya manusia.

Kita mempunyai mahasiswa.

Kita mempunyai jaringan alumni.

Dan yang paling penting, kita mempunyai nilai-nilai Islam dan kebangsaan yang menjadi fondasi perjuangan kita.

Karena itu, saya ingin membangun kesadaran bersama:

UNISSULA bukan sekadar tempat orang memperoleh gelar.

UNISSULA harus menjadi tempat lahirnya manusia yang memiliki ilmu, iman, akhlak, kompetensi, dan keberanian mengambil tanggung jawab.

Kita ingin melahirkan sarjana yang ketika melihat persoalan bangsa tidak bertanya:

“Apa keuntungan saya?”

Tetapi terlebih dahulu bertanya:

“Apa yang dapat saya lakukan untuk bangsa ini?”

Kita ingin melahirkan doktor yang tidak hanya menghasilkan disertasi, tetapi menghasilkan pemikiran yang dapat mengubah kebijakan.

Kita ingin melahirkan profesor yang tidak hanya menghasilkan publikasi, tetapi menghasilkan legacy bagi masyarakat.

Kita ingin melahirkan pemimpin yang tidak hanya memiliki kecerdasan intelektual, tetapi memiliki integritas dan keberanian moral.

Inilah perguruan tinggi yang kita cita-citakan.

Hadirin yang saya muliakan,

Pendidikan tinggi harus kembali kepada hakikatnya.

Universitas bukan pabrik gelar.

Universitas adalah tempat membangun peradaban.

Gelar adalah konsekuensi dari proses pendidikan.

Tetapi kontribusi kepada bangsa adalah ukuran sesungguhnya dari keberhasilan pendidikan.

Karena itu, ukuran keberhasilan perguruan tinggi tidak boleh hanya dilihat dari berapa banyak mahasiswa yang lulus.

Jangan hanya bertanya berapa banyak jurnal yang terbit.

Jangan hanya bertanya berapa banyak profesor yang kita miliki.

Tetapi tanyakan:

Berapa banyak persoalan bangsa yang berhasil kita bantu selesaikan?

Berapa banyak kebijakan publik yang menjadi lebih baik karena kontribusi akademisi kita?

Berapa banyak masyarakat yang kehidupannya berubah karena ilmu yang kita kembangkan?

Dan yang paling penting:

Warisan apa yang kita tinggalkan untuk generasi setelah kita?

Itulah ukuran perguruan tinggi yang sesungguhnya.

Hadirin yang saya hormati,

Kita tidak boleh takut untuk mengambil tanggung jawab.

Kadang-kadang akademisi terlalu nyaman berada di ruang seminar.

Kita berdiskusi.

Kita berdebat.

Kita menulis.

Kita mengkritik.

Semua itu penting.

Tetapi bangsa membutuhkan lebih dari sekadar kritik.

Bangsa membutuhkan solusi.

Bangsa membutuhkan keberanian untuk mengubah pengetahuan menjadi tindakan.

Karena itu, saya mengajak seluruh keluarga besar UNISSULA:

Jangan menjadi penonton pembangunan Indonesia.

Jadilah pelaku.

Jadilah penggerak.

Jadilah pemberi solusi.

Jadilah bagian dari kekuatan yang membangun Indonesia.

Dan ketika suatu hari nanti kita ditanya:

“Apa yang telah kalian lakukan selama menjadi akademisi?”

Kita dapat menjawab:

Kami tidak hanya mengajar.

Kami tidak hanya meneliti.

Kami tidak hanya memberikan gelar.

Kami telah menggunakan ilmu kami untuk mengabdi kepada bangsa.

Itulah birrul walidain kita terhadap Indonesia.

Itulah bentuk penghormatan kita kepada para pendahulu.

Dan itulah tanggung jawab kita kepada generasi yang akan datang.

Hadirin yang saya muliakan,

Saya percaya bahwa masa depan Indonesia tidak hanya ditentukan oleh pemerintah.

Tidak hanya oleh dunia usaha.

Tidak hanya oleh masyarakat.

Tetapi juga sangat ditentukan oleh perguruan tinggi.

Perguruan tinggi harus menjadi salah satu lokomotif utama perubahan.

Karena itu, mari kita bangun universitas yang tidak hanya excellent in academic achievement, tetapi juga excellent in contribution.

Universitas yang tidak hanya pintar berbicara tentang masa depan, tetapi berani membangun masa depan.

Universitas yang tidak hanya mencetak lulusan, tetapi mencetak peradaban.

Universitas yang tidak hanya mengejar reputasi, tetapi mengejar kemanfaatan.

Dan universitas yang tidak hanya bertanya:

“Apa yang bisa diberikan negara kepada perguruan tinggi?”

Tetapi terlebih dahulu bertanya:

“Apa yang bisa diberikan perguruan tinggi kepada negara?”

Inilah semangat yang harus kita bangun.

UNISSULA harus hadir untuk Indonesia.

UNISSULA harus berani mengambil tanggung jawab.

UNISSULA harus menjadi bagian dari solusi.

Dan UNISSULA harus ikut memastikan bahwa ilmu pengetahuan benar-benar menjadi kekuatan untuk mewujudkan Indonesia yang maju, adil, sejahtera, bermartabat, dan berperadaban.

Mari kita jadikan ilmu sebagai ibadah.

Mari kita jadikan penelitian sebagai pengabdian.

Mari kita jadikan universitas sebagai pusat solusi.

Dan mari kita jadikan pengabdian kepada bangsa sebagai birrul walidain kita kepada Indonesia.

Dari kampus untuk bangsa.

Dari ilmu untuk kemanusiaan.

Dari UNISSULA untuk Indonesia.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Prof. Dr. H. Gunarto, S.E., S.H., M.H.

Rektor Universitas Islam Sultan Agung.

Ditulis oleh : Widhi handoko