pertumbuhan industri perunggasan nasional yang terus menunjukkan tren positif, namun nasib peternak rakyat khususnya di Kabupaten Pati justru menghadapi tekanan ekonomi yang semakin berat.

Transvaransijateng.com_ Pati . Di tengah pertumbuhan industri perunggasan nasional yang terus menunjukkan tren positif, namun nasib peternak rakyat khususnya di Kabupaten Pati justru menghadapi tekanan ekonomi yang semakin berat.

Dalam beberapa pekan terakhir, harga ayam hidup di tingkat peternak terus berada di bawah Harga Pokok Produksi (HPP). Karena itu, menyebabkan kerugian besar dan mengancam keberlangsungan usaha peternakan rakyat.

Kondisi tersebut mendapat perhatian serius dari Persaudaraan Peternak Mandiri Pantura (PPMP). Organisasi ini menilai masih terjadi ketimpangan dalam tata kelola industri perunggasan nasional.

“Kondisi ini membuat peternak rakyat berada pada posisi paling rentan di tengah rantai bisnis perunggasan, ” ujar Ketua Persaudaraan Peternak Mandiri Pantura (PPMP) Pantura Timur, Ir. Saripudin.

Saripudin mengatakan, peternak rakyat saat ini menghadapi situasi yang semakin sulit. Sebab harga jual ayam hidup tidak mampu menutupi biaya produksi.

“Peternak rakyat bukan tidak mampu berproduksi, tetapi mereka sedang menghadapi sistem usaha yang belum memberikan keseimbangan,” terang Saripudin yang ditemui pada Rabu (1/7/2026).

“Anak-anak peternak tidak lagi tertarik meneruskan usaha keluarganya, karena melihat usaha ini semakin sulit memberikan keuntungan. Padahal peternak rakyat adalah penyangga ketahanan pangan nasional, ” tandasnya.

Di sisi lain, Persaudaraan Peternak Mandiri Pantura juga mendesak pemerintah menghadirkan kebijakan yang benar-benar berpihak pada terciptanya industri perunggasan yang sehat, adil, dan berkelanjutan.

Persaudaraan Peternak Mandiri Pantura berharap pemerintah segera mengambil langkah konkret untuk menyeimbangkan kepentingan seluruh pelaku usaha perunggasan.

Saripudin menegaskan, keberhasilan industri tidak cukup diukur dari peningkatan produksi maupun keuntungan perusahaan besar saja. Namun juga dari kemampuan peternak rakyat untuk bertahan, berkembang dan memperoleh penghasilan yang layak.

“Tanpa peternak rakyat yang kuat, cita-cita mewujudkan ketahanan pangan nasional akan semakin sulit diwujudkan.sbr media.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *